15 November 2013, Kado berikutnya

Haii.. Seharian kemarin banyak yang aku lalui dan sayang kalau ga diceritakan disini. Kemarin itu hari Jum'at, masih dalam suasana pelatihan petugas Susenas di Hotel Ely's Lasusua. Jangan bayangkan seperti hotel-hotel pada umumnya ya karena kalau menurutku lebih mirip losmen atau malah kos-kosan, hehe. Tadi malam rencananya aku mau nulis blog, tapi sakit kepalaku sudah tidak tertahankan, berjalan pun terhuyung-huyung. Semoga cepet sembuh :).

Pas coffee break, aku dan Rahmin makan kue dadar gulung yang isinya parutan kelapa plus gula.
R : Ini kalau disini namanya cangkuli, Nov..
N : Ooo kalau di Jakarta ini namanya dadar gulung. Jadi nanti kalau aku mau beli dadar gulung  bilangnya beli kue cangkuli ya.
R : Bukaannn... dalemnya aja yang namanya cangkuli, awas ye kalau lo bilang mau beli kue cangkuli.. Hahaha.. 
Sesampainya di kosan, tidur-tiduran bentar menghilangkan lelah setelah seharian duduk mengikuti pelatihan. Tiba-tiba mbak Cita dan mas Andrian datang ke kosan memberikan sebuah kado unyu, whuaa, love it. Packaging-nya lucu berbentuk tas, di depannya ada pita. Pas dibuka, isinya kerudung bergo cantik berwarna ungu.

Kado dari Mbak Cita

Sudah dulu ya, aku harus bersiap-siap ke Hotel Ely's lagi untuk pelatihan hari ketiga. Semoga hari ini lancar dan akunya bisa sehat. Aamiin..

14 November 2013, My 25th Birthday

Hari ini, hari yang kau tunggu, 
Bertambah satu tahun, usiamu 
Bahagialah kamu.. 
Yang kuberi bukan jam dan cincin 
Atau seikat bunga 
Juga puisi 
Serta kalung hati....

Alhamdulillah aku panjatkan kepada Allah yang selalu memberi apapun yang aku butuhkan, meski tak selalu memberi apa yang aku inginkan. Dua puluh lima tahun bukanlah usia yang muda lagi. Secara bilangan usia, harusnya aku bisa bersikap lebih dewasa lagi dari waktu ke waktu. Tidak emosional dalam mengambil segala keputusan. Tidak mudah tersinggung atas sikap orang lain yang menurutku tidak menyenangkan. Harus semakin menyadari bahwa setiap orang ingin dihargai, sama seperti aku ingin dihargai oleh orang lain. Ya, Kolaka Utara ini harus mampu membuat aku menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Pagi ini, sekitar jam 07.00 wita, ponselku berbunyi, si ibu nelpon mengucapkan selamat ulang tahun. Beliau juga mengabarkan telah membuat syukuran kecil-kecilan dengan membuat nasi kuning dan dibagikan ke tetangga dekat. Tak lama berselang, bapak juga nelpon, ngucapin selamat ulang tahun juga. Pas bangun tidur tadi pagi sebetulnya agak tidak enak badan, tenggorokan sakit dan jalan saja sempoyongan. Sambil terhuyung-huyung, aku menuju kamar mandi karena ada jadwal pelatihan susenas, harus on time. Dari kamar mandi, terdengar ada bunyi sms masuk. Mungkin sms dari sahabatku nun jauh disana. Aku santai saja membukanya. Namun saat dibuka ternyata dari seseorang yang pernah aku ceritakan pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Seketika setelah membaca sms darinya, badanku terasa sedikit lebih baik. Bagaimana dia ingat ulang tahunku? Eaa.. kepedean mode on. Isi smsnya sebetulnya biasa saja, sangat biasa, aku saja yang berlebihan menanggapinya. Sampai-sampai aku bingung mau balas apa. Seperti ini bunyi smsnya. 

Dek Novi, met milad ya dek :) .. semoga dg bertambahnya usia bertambah juga pengalaman yang membuat dek novi lebih dewasa n lebih bijak :) ..n semoga akhlak dek novi semakin terampil menawan dalam kebijakan..jadi panjang smsnya, hehe.. n semoga Alloh senantiasa memberikan taufik rahmat berkah, lindungan dan keselamatan, hidayah serta ridho-Nya.. aamiin
Ucapan selamat ulang tahun juga berdatangan dari teman-teman, baik di facebook, twitter maupun secara langsung. Terimakasih ya ibu, bapak, seseorang, dan teman-teman atas do'anya. Yang rajin mengucapkan selamat ulang tahun saat aku ulang tahun adalah admin kaskus, hehe, dulu aku kaskuser.. sekarang udah enggak. Hari ini pas buka internet kan otomatis langsung terbuka google, yeah google sent me a gift, birthday cake. Seperti ini bentuknya. 

Cake from google

Daan, sepulang kerja Rahmin, teman seangkatanku yang sepenempatan di sini, memberikan aku sebuah teman kecil yang unyu, boneka pisang. Hihi, teman baruku di Kolaka Utara. Seperti inilah si boneka pisang. Makasih yaa Rahmiin. 

Boneka Pisang From Rahmin

Semangat yaa Novi, apapun yang terjadi harus tetap bersyukur dan bahagia.. Allah ingin kamu bahagia atas segala sesuatu yang Dia karuniakan kepadamu. Tetep optimis :)

25 Oktober 2013, Mengantar Ibu Kembali ke Jakarta

Beberapa waktu yang lalu aku mengantar ibu pulang ke Tangerang, mengantarnya hanya sampai Bandara Hasanuddin, Makassar. Pertama, kita naik kapal ferry terlebuh dahulu. Seperti inilah kira-kira lasusua jika dilihat dari lautan luas, terlihat sangat kecil. 

Daratan Lasusua Dari Kejauhan

Perjalanan selama kurang lebih 3 jam terasa cukup lama. Jadi kami berfoto-foto dulu untuk mengabadikan perjalanan tersebut. Ini dia ibuku, :D 

Ibu lagi narsis

Kami tiba di Pelabuhan Siwa sekitar pukul 12 siang, kemudian kami harus melanjutkan perjalanan darat menuju Makassar. Sebenernya kasian sama ibu, untungnya beliau kuat, jadi alhamdulillah lancar dan selamat sampai tujuan. Sayang amat disayangkan, mobil yang kami tumpangi itu bermasalah sama ban, berkali-kali kali menepi untuk memperbaiki ban. Perjalanan yang semula diperkirakan akan tiba di Makassar sekitar pukul 7 malam, ternyata mundur menjadi puluk setengah 10 malam. Agak kesel juga sebenernya, tapi sudah alhamdulillah karena bisa sampai dengan selamat. Sopirnya juga tepat waktu banget sama sholat 5 waktunya. Setiap jam sholat tiba, sopirnya menepikan mobil. Dan ibu suka hal itu, hehe. 

Setelah menginap di Hotel Transit, dengan paket 12 jam saja, kami melanjutkan perjalanan ke bandara. Sampai di bandara, hanya calon penumpang yang mampu menujukkan tiket saja yang boleh masuk. Mendadak lemaslah aku, rasanya tega sekali aku membiarkan ibu yang baru petama kalinya naik pesawat seorang diri. Aku memutar otak bagaimana caranya supaya bisa menemani ibu sampai ruang tunggu. Ahhayy.. ada e-ticket punya ibu di handphoneku. Kutunjukkan tiket yang ada pada ponselku kepada petugas penjaga pintu masuk, daaann ternyata berhasil. Aku bisa ikut ibu masuk ke ruang tunggu bandara. Alhamdulillah. 

Di depan replika kapal phinisi
Naik eskalator mendatar :p

Kami menunggu pesawat selama kurang lebih 2 jam, pesawat ibu menggunakan maskapai citilink dengan pertimbangan citilink adalah anak perusahaan Garuda Indonesia. Sudah dua kali kami menggunakan citilink, namun dua kali juga mengalami keterlambatan. Pertama, saat dari Yogjakarta menuju Jakarta, terlambat 1 jam. Dan kemarin pas ibu mau berangkat dari Makassar ke Jakarta, hampir satu jam pesawatnya ga terbang juga padahal semua penumpang sudah masuk ke pesawat. Terus kata ibu pas sampai Jakarta, katanya pesawatnya ga halus landingnya. Kembali lagi, alhamdulillah masih dikasih keselamatan sampai tujuan, namun bisa jadi pelajaran untuk ke depan nanti.

Setelah pesawatnya ibu take off, tinggallah aku seorang diri. Rasanya tu krenyes-krenyes, kenapa harus terpisah jarak sejauh ini. Otakku lalu memutar memori yang berbau sedih-sedih, hingga air mataku tidak bisa kutahan lagi. Tumpah. Padahal saat itu aku sedang berada di bus Damri yang akan membawaku ke kota Makassar. Tissu yang tadi diberikan sama ibu ternyata sangat berguna untuk kondisi seperti itu.

From Kolaka Utara With Love :*

Mau Senyum Simetris? Pasang Kawat Gigi

Akuu.... 

Aku udah betah di Kolaka Utara, haha yakiin?

Huhu, aku ga mau di PHP-in lagi ah. Atau ini dianya biasa aja dan aku yang terlalu pede? Mbuh, yang jelas sekarang aku harus berhati-hati menjaga hatiku yang rapuh ini.. *tsahh*. 

Oia, sebulan yang lalu, aku pasang kawat gigi di daerah Makassar. Alhamdulillah ya keinginanku selama ini satu per satu tercapai. Alhamdulillah ya Allah atas semua kemudahan yang diberikan. Atas semua kesempatan hidup di dunia ini. 

Pertama kali pakai kawat rasanya ngilu-ngilu semua. Rasanya gigi geligi mau copot satu persatu dan memang goyang karena karetnya sudah mulai bekerja. Jadi jangankan makan yang keras-keras, makan yang lembut saja susah. Pas hari pertama, ada kawat yang keluar jalur dan nusuk-nusuk pipi. Rasanyaa.. grrrr. Sariawan bertebaran dimana-mana. Kuganjal dengan kapas kawatnya, tetapi aku capek gantiin kapasnya. Setelah aku cek, ternyata kawatnya bisa diarahkan ke dalam supaya ga merobek kulit pipi. 

Setelah dua minggu, ke dokter lagi kan buat ganti karet plus aktivasi kawat. Aktivasi itu maksudnya, kondisi dimana gigi sudah mulai digerakkan secara perlahan. Untuk menggerakkan gigi, tentu saja dibutuhkan ruang kosong sehingga satu gigi harus dicabut. Cabut gigi itu ternyata sama sekali ga sakit, iya karena ada obat bius yang bekerja. Namun setelah biusnya hilang, hedeuuh sakit pake banget. Nyut, nyut.. Karena saat itu cabut giginya menjelang malam, dibawa tidur sampai ga terasa lagi sakitnya. Untuk kontrol berikutnya, sepertinya ada satu gigi lagi yang akan dicabut. Hwiiw masih tetep menyeramkan.

Pas sudah sampai di Kolaka Utara, masih terasa ngilu karena habis ganti karet. Tadinya kan warna hijau, terus yang sekarang ini transparan. Hari pertama masih agak malu-malu gitu ketemu sama orang-orang di kantor. Hari-hari berikutnya sudah terbiasa. Pas hari pertama, ada perih-perih di pipi, haaa ternyata ada kawat yang salah arah lagi. Ini sang dokter ngerjainnya buru-buru atau gimana ya. Langsung aku buru-buru melarikan motorku ke dokter gigi di kota ini. Berhubung masih jam kantor, dokter giginya belum buka praktek. Mereka masih bertugas di satu-satunya rumah sakit pemerintah yang ada di kota ini. Langsung capcus  kesana. Ternyata masih jam istirahat pula. Ya mau nggak mau harus menunggu.

Seorang perawat menanyakan keperluanku apa. Aku bilang ada kawat yang perlu dibenarkan posisinya. Ternyata ga perlu nunggu dokter. Perawat itu bisa juga. Alhamdulillah. Pas aku tanya berapa, dia minta 20 ribu rupiah, menurutku agak mahal mengingat itu adalah rumah sakit pemerintah. Yowis aku ga mau kelamaan berdebat, kukasih 50 ribuan. Ternyata perawat itu ga ada kembalian. Aku ada sepuluh ribuan, kata mbaknya itu yaudah ga apa-apa 10 ribu aja.. dieeennggg. Pasti itu pungutan liar, biarin deh asalkan aku ga tersiksa karena kawat yang salah arah itu. 

Setiap 1,5-2 bulan sekali aku harus kontrol ke dokter Eka (atau dr. Diana). Kantong bisa bolong nih mengingat jarak antara Kolaka Utara-Makasar yang jauh. Ini semua kulakukan untuk kesehatan (dan kesimetrisan senyum.. halah). Semoga ini bukan termasuk hal yang mubadzir. 

Salam senyum simetris. :)

Kolaka Utara - Makassar

Bismillahirahmanirrahim...

It's my new post on my new blog,
Masih muda udah pelupaa, entah ini blog ke berapa yang udah aku buat. Semoga blog ini ga akan aku tinggalkan seperti blog-blog sebelumnya. Langsung aku catat baik-baik di mana-mana deh username sama passwordnya, hehee. 

Sekarang, aku ini seorang abdi negara yang berstatus ikatan dinas, huhu, jadi ga bisa seenaknya untuk memilih tempat tinggal yang diinginkan (untuk saat ini looh, semoga nanti bisa milih). Aku meyakini tempat ini adalah tempat terbaik yang dipilihkan Allah. Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Kabupaten Kolaka Utara ini emang jauh dari mana-mana. Dari arah Kendari, ibukota Sultra jauh. Dari Makasar (ibukota Sulsel) juga sama jauhnya. Aku malah lebih sering berpetualang ke Makasar dibanding ke Kendari. Kota-kota di Sulsel mengingatkan aku pada Pulau Jawa. Sementara di Sultra, sangat berbeda dengan Jawa. Jadi kalau sedang rindu Jakarta, aku main ke Makasar. Sekalian juga kontrol perawatan gigi ke dokter. Aku relatif lebih hafal daerah-daerah di Makasar daripada Kendari. Ke Kendari paling kalau ada tugas negara aja. 

Untuk ke Makasar dari Kolaka Utara, kita harus ke Pelabuhan dulu. Iya, kita nyebrang dengan kapal Ferry Camelia atau kapal fiber yang ukurannya lebih mini tapi waktu tempuh menuju pelabuhan Siwa cukup singkat. Tinggal pilih aja, tentunya ada harga ada rupa doong yah, hihi. Kalau waktu tempuh kapal fiber hanya 1 jam 15 menit, kapal ferry butuh waktu 3 jaamm. Ya iya aja, wong serasa berhenti kapalnya. Sesampainya di Pelabuhan Siwa, Kabupaten Wajo, Sulsel kita akan disambut oleh para pencari Tuhan penumpang yang menawarkan jasanya. Sebaiknya menelpon supir sebelum naik kapal, supaya tidak terombang-ambing saat sampai di Siwa. 

Perjalanan Siwa-Makasar, bukanlah perjalanan yang dekat masbroh, butuh waktu sekitar 5-6 jam untuk sampai Kota Makasar. Jadi persiapkan bekal yang cukup (Money maupun makanan). Kondisin jalanan Siwa-Makasar relatif lebih bagus dibandingkan jalanan di Sultra. Maksudnya di sultra itu kan jalanannya kecil dan berliku-liku (kayak perjalanan asmara kita, halaah..). Di Sulsel, jalanannya agak lebar dan kondisinya relatif lurus-lurus kayak di Pulau Jawa. Saking kerennya jalanan disana, kita akan diajak untuk olahraga jantung karena pada umumnya para sopir angkutan akan melarikan mobilnya dengan kecepatan 90-110 km/jam tanpa macet. Jadi jangan kaget. 

Biasanya sampai di Makasar sekitar jam 6 hingga 8 malam. Tergantung kecepatan dan naik kapal apa. Aku udah punya tempat penginapan langganan di daerah pengayoman. Jadi biasanya aku nelpon ibunya kalau mau kesana, biar dibersihin dulu. Sejauh ini, menurutku, Makassar itu mirip-miriplah sama Jakarta. Kota yang crowded.

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...