Perjalanan untuk Memililik Rumah

Kali ini aku mau bercerita tentang perjalanan kami untuk memiliki rumah sendiri. 

Sebagaimana pada umumnya orang yang sudah menikah, kami ingin punya rumah sebagai tempat untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Saking lamanya ga update blog ini, banyak sekali cerita yang terlewatkan. Jadi sekarang ini aku bertugas di Kota Kendari setelah sebelumnya di Lasusua dan Unaaha. Aku (setelah melewati berbagai kegaluan, eaaa) dipertemukan dengan sang jodoh di Kota Kendari. 

Kembali lagi ke topik mengenai rumah. Berbagai tawaran mengenai kredit perumahan sering berdatangan. Dari uang muka rendah hingga cicilan yang insyaAllah bisa kami jangkau. Kala itu, aku dan suami hampir tergoda untuk segera memiliki rumah pribadi. Kami pun sempat melihat-lihat beberapa lokasi perumahan di sudut-sudut kota. Kawan-kawan dan kerabat juga banyak yang mendorong agar kami segera mengambil rumah dengan cara kredit. Istilahnya, kapan lo mau punya rumah kalau nggak nekat? Terimakasih atas atensinya kepada kami. 

Namun jauh di dalam lubuk hati kami yang paling dalam, rasanya berat sekali untuk melakukan akad kredit perumahan. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan, antara lain: 
  1. Kredit rumah berarti kami mengikatkan diri pada bank sebagai pihak yang berhutang selama belasan sampai puluhan tahun.
  2. Setelah melakukan kalkulasi, besar rupiah yang harus dibayarkan hingga rumah tersebut lunas bisa sampai beberapa kali lipat dari harga cash. Mungkin sebagian orang bilang, ya jelaslah namanya juga bisnis. Menurut kami itu cukup merugikan karena dengan harga tersebut sebenarnya kita bisa dapat rumah dengan spesifikasi yang lebih baik. 
  3. Model rumah dan bahan bangunannya ga bisa custom sesuai dengan keinginan. 
Di tengah berbagai kegamangan yang kami alami, ternyata Allah telah menyiapkan sesuatu bagi kami. Perjalanan mempertemukan kami dengan sebuah kavling tanah yang harganya bisa kami jangkau dengan membeli tunai, alhamdulillah. Satu kali kami survei langsung merasa cocok dengan lokasi tersebut. Satu tahapan sudah terlewati yaitu membeli tanah dan alhamdulillah dengan cash keras. Selanjutnya adalah membangun sedikit demi sedikit di atas tanah tersebut. Kalau kata orang, sing penting yakin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...