Welcome to Unaaha

Ga terasa udah sekitar dua minggu, bahkan lebih, aku di Unaaha. Sebuah kota kecil di daratan Sulawesi Tenggara yang katanya paling dekat dengan ibukota propinsi di Kendari. Sedekat-dekatnya jarak sebuah kota terhadap kota lain di luar pulau Jawa, masih terasa jauh menurutku. Dengan jarak sekitar 70 kilometer, perjalanan dari Unaaha ke Kota Kendari dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. 

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Kota Unaaha, yang terbersit dalam pikiranku "kok sepi ya?". Ya Kota Unaaha meskpiun sudah berusia lebih dari 50 tahun, masih begini-begini aja kalau kata orang yang sudah tau bagaimana Unaaha sejak jaman dulu. Maksudnya, tidak ada kemajuan yang berarti dari hari ke hari. Namun, bagi penduduk asli Unaaha, kota ini pasti akan mereka rindukan dimana pun mereka berada, yah namanya juga kampung halaman. 

Kompleks perkantoran di Unaaha ini terpusat menjadi satu dan bentuknya lingkaran menyerupai sarang laba-laba. Hari-hari pertama setiap pulang kantor pasti kesasar dulu, setelah bertanya sama penduduk sekitar barulah tau jalan ke rumah kos. 

Oh iya, aku juga mau bercerita mengenai rumah kos baru. Aku tinggal di daerah Kelurahan Tuoy yang bersebelahan dengan Kota Unaaha, juga bersebelahan dengan Kecamatan Wawotobi. Jarak antara kosan dengan kantor sekitar 7 kilometer. Rumah kos yang aku tempati itu adalah milik salah satu kepala bidang di provinsi, sekarang beliau sudah pindah tugas ke Pangkep. Di rumah kos itu ada penjaganya, sepasang suami istri dengan tiga orang anaknya, Dilla, Sofi dan Nabil. Jarak usia mereka bertiga tidak terlalu jauh, rata-rata 2 tahun. Setiap hari ada saja hal yang dipertengkarkan ala anak kecil. Seringkali diakhiri oleh tangisan salah satu diantara mereka. Aku sendiri ga pernah merasakan bagaimana bertengkar kecil dengan kakak atau adik kandung, kasian ya. 

Sepasang suami istri penjaga kos yang baik itu, setiap hari membantu aku mengamankan motor dinas karena memang tidak disediakan tempat khusus untuk menyimpan motor. Kalau setiap hari kok aku jadi merasa ga enak ya *inilah ciri khas orang Jawa, ga enakan*. Kata mereka sih ga apa-apa mba. 

Secara keseluruhan, aku masih belum bisa sepenuhnya menikmati kehidupan di Unaaha. Masih dalam tahap penyesuaian seperti pertama-tama di Lasusua dulu. Dan tahukah, lama waktu yang saya butuhkan untuk merasa nyaman terhadap suatu tempat atau keadaan. Lama ya -_-. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...