Mau Senyum Simetris? Pasang Kawat Gigi

Akuu.... 

Aku udah betah di Kolaka Utara, haha yakiin?

Huhu, aku ga mau di PHP-in lagi ah. Atau ini dianya biasa aja dan aku yang terlalu pede? Mbuh, yang jelas sekarang aku harus berhati-hati menjaga hatiku yang rapuh ini.. *tsahh*. 

Oia, sebulan yang lalu, aku pasang kawat gigi di daerah Makassar. Alhamdulillah ya keinginanku selama ini satu per satu tercapai. Alhamdulillah ya Allah atas semua kemudahan yang diberikan. Atas semua kesempatan hidup di dunia ini. 

Pertama kali pakai kawat rasanya ngilu-ngilu semua. Rasanya gigi geligi mau copot satu persatu dan memang goyang karena karetnya sudah mulai bekerja. Jadi jangankan makan yang keras-keras, makan yang lembut saja susah. Pas hari pertama, ada kawat yang keluar jalur dan nusuk-nusuk pipi. Rasanyaa.. grrrr. Sariawan bertebaran dimana-mana. Kuganjal dengan kapas kawatnya, tetapi aku capek gantiin kapasnya. Setelah aku cek, ternyata kawatnya bisa diarahkan ke dalam supaya ga merobek kulit pipi. 

Setelah dua minggu, ke dokter lagi kan buat ganti karet plus aktivasi kawat. Aktivasi itu maksudnya, kondisi dimana gigi sudah mulai digerakkan secara perlahan. Untuk menggerakkan gigi, tentu saja dibutuhkan ruang kosong sehingga satu gigi harus dicabut. Cabut gigi itu ternyata sama sekali ga sakit, iya karena ada obat bius yang bekerja. Namun setelah biusnya hilang, hedeuuh sakit pake banget. Nyut, nyut.. Karena saat itu cabut giginya menjelang malam, dibawa tidur sampai ga terasa lagi sakitnya. Untuk kontrol berikutnya, sepertinya ada satu gigi lagi yang akan dicabut. Hwiiw masih tetep menyeramkan.

Pas sudah sampai di Kolaka Utara, masih terasa ngilu karena habis ganti karet. Tadinya kan warna hijau, terus yang sekarang ini transparan. Hari pertama masih agak malu-malu gitu ketemu sama orang-orang di kantor. Hari-hari berikutnya sudah terbiasa. Pas hari pertama, ada perih-perih di pipi, haaa ternyata ada kawat yang salah arah lagi. Ini sang dokter ngerjainnya buru-buru atau gimana ya. Langsung aku buru-buru melarikan motorku ke dokter gigi di kota ini. Berhubung masih jam kantor, dokter giginya belum buka praktek. Mereka masih bertugas di satu-satunya rumah sakit pemerintah yang ada di kota ini. Langsung capcus  kesana. Ternyata masih jam istirahat pula. Ya mau nggak mau harus menunggu.

Seorang perawat menanyakan keperluanku apa. Aku bilang ada kawat yang perlu dibenarkan posisinya. Ternyata ga perlu nunggu dokter. Perawat itu bisa juga. Alhamdulillah. Pas aku tanya berapa, dia minta 20 ribu rupiah, menurutku agak mahal mengingat itu adalah rumah sakit pemerintah. Yowis aku ga mau kelamaan berdebat, kukasih 50 ribuan. Ternyata perawat itu ga ada kembalian. Aku ada sepuluh ribuan, kata mbaknya itu yaudah ga apa-apa 10 ribu aja.. dieeennggg. Pasti itu pungutan liar, biarin deh asalkan aku ga tersiksa karena kawat yang salah arah itu. 

Setiap 1,5-2 bulan sekali aku harus kontrol ke dokter Eka (atau dr. Diana). Kantong bisa bolong nih mengingat jarak antara Kolaka Utara-Makasar yang jauh. Ini semua kulakukan untuk kesehatan (dan kesimetrisan senyum.. halah). Semoga ini bukan termasuk hal yang mubadzir. 

Salam senyum simetris. :)

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Belum ada Sp.Ort mba Yohana.. saya pp juga nih,.. 6 bulan sekali :)

    BalasHapus

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...