Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsumsi kalsium atau makanan yang mengandung kalsium. Akibatnya kalsium yang dibutuhkan buat perkembangan bayi, membuat gigi geraham mulai rapuh dan berlubang. Sempat mengantri di dokter gigi rsud Kendari, namun karena antrian yang cukup panjang membuat aku membatalkan niatku menemui dokter gigi. Kemudian kalau gigi sedang kambuh, aku hanya konsumsi painkiller. 

Gigi bungsu sebelah kanan tumbuh miring sehingga makanan kerap terjebak di dalamnya, sehingga lama kelamaan ia berlubang. Ketika makanan masuk disana, tidak sakit hanya tidak nyaman. Sementara gigi bungsu kiri sudah rapuh dan bahkan habis mahkotanya. Parahnya, gigi bungsu sebelah kiri juga membuat gigi geraham di depannya berlubang. 

Belakangan ini aku mengunjungi dokter gigi pada faskes tingkat pertama di klinik makara. Dokter memberikan rujukan ke rumah sakit bhayangkara brimob, sebenarnya bisa juga pilih rumah sakit lainnya. 

Pagi itu aku sengaja ke dokter gigi di rumah sakit bhayangkara brimob, malam sebelumnya aku sudah daftar melalui aplikasi yang mereka miliki, bisa didownload di playstore. Paginya aku datang kesana dengan ojek online. Suasana perjalanan dari rumah ke rumah sakit agak macet dan abang ojeknya suka banget mengeluh. Itu membuat aku sedikit tidak nyaman. Namanya Djakarta dan sekitarnya wajar kalau macet. Lesson learned dari kejadian pagi itu adalah jangan suka mengeluh ya, itu membuat orang-orang di sekitarmu jadi nggak nyaman. 

Setibanya di rumah sakit tinggal daftar ulang ke bagian pendaftaran karena sebelumnya kan udah daftar online. Next menuju ke gedung rawat jalan tepatnya lantai 2. Oia, misalnya mau pakai bpjs, dokumen yang perlu disiapkan sebelum kesana adalah surat rujukan dari faskes tingkat 1, fotokopi ktp dan fotokopi kartu bpjs masing-masing 2 lembar. 

Di lantai 2 sudah mengantri cukup banyak pasien, padahal aku datangnya udah termasuk pagi, jam 8. Namaku ga dipanggil panggil sampai agak bosen, main hape udah, ngobrol basa basi sama pasien lain udah. Pfiuuh. Sekitar 1 jam lebih, akhirnya dipanggil masuk ke ruang dokter. Dokter menyuruhku duduk di kursi periksa, kemudian mesin bor gigi berbunyi. Ya Allah ternyata dibor gigi itu sakiit, ngilu, sampai ga terasa air mataku menetes sendiri. Kemudian dokter cantik nan baik itu memberikan surat rekomendasi foto dental 37, gigi 37 itu istilah kedokteran gigi yang merujuk pada gigi geraham molar sebelah kiri bawah. Perawat bilang gak bisa hari itu juga foto giginya karena dah penuh kuota, disuruh balik lagi besoknya, ya ampyun. Butuh tenaga ekstra buat bolak balik rumah sakit. Walaupun gak bayar cash untuk perawatan, ada biaya transportasi juga tenaga serta waktu. 

Waktu aku pulang dari rumah sakit, sambil kulihat surat rujukan foto gigi. Fyi, foto gigi itu foto satu atau beberapa gigi sementara kalau rontgen panoramic dan cephalometric itu foto keseluruhan gigi geligi. Aku lihat nama dokter yang menangani, ternyata bukan dokter spesialis Konservasi Gigi seperti yang aku daftar malamnya. Jadi, daftarnya boleh milih ke dokter siapa, tapi kenyataannya bukan dokter tersebut yang menangani. Well, tak apa. Namun, aku jadi berpikir lagi buat datang kedua kali. 

Perjalanan untuk Memililik Rumah

Kali ini aku mau bercerita tentang perjalanan kami untuk memiliki rumah sendiri. 

Sebagaimana pada umumnya orang yang sudah menikah, kami ingin punya rumah sebagai tempat untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Saking lamanya ga update blog ini, banyak sekali cerita yang terlewatkan. Jadi sekarang ini aku bertugas di Kota Kendari setelah sebelumnya di Lasusua dan Unaaha. Aku (setelah melewati berbagai kegaluan, eaaa) dipertemukan dengan sang jodoh di Kota Kendari. 

Kembali lagi ke topik mengenai rumah. Berbagai tawaran mengenai kredit perumahan sering berdatangan. Dari uang muka rendah hingga cicilan yang insyaAllah bisa kami jangkau. Kala itu, aku dan suami hampir tergoda untuk segera memiliki rumah pribadi. Kami pun sempat melihat-lihat beberapa lokasi perumahan di sudut-sudut kota. Kawan-kawan dan kerabat juga banyak yang mendorong agar kami segera mengambil rumah dengan cara kredit. Istilahnya, kapan lo mau punya rumah kalau nggak nekat? Terimakasih atas atensinya kepada kami. 

Namun jauh di dalam lubuk hati kami yang paling dalam, rasanya berat sekali untuk melakukan akad kredit perumahan. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan, antara lain: 
  1. Kredit rumah berarti kami mengikatkan diri pada bank sebagai pihak yang berhutang selama belasan sampai puluhan tahun.
  2. Setelah melakukan kalkulasi, besar rupiah yang harus dibayarkan hingga rumah tersebut lunas bisa sampai beberapa kali lipat dari harga cash. Mungkin sebagian orang bilang, ya jelaslah namanya juga bisnis. Menurut kami itu cukup merugikan karena dengan harga tersebut sebenarnya kita bisa dapat rumah dengan spesifikasi yang lebih baik. 
  3. Model rumah dan bahan bangunannya ga bisa custom sesuai dengan keinginan. 
Di tengah berbagai kegamangan yang kami alami, ternyata Allah telah menyiapkan sesuatu bagi kami. Perjalanan mempertemukan kami dengan sebuah kavling tanah yang harganya bisa kami jangkau dengan membeli tunai, alhamdulillah. Satu kali kami survei langsung merasa cocok dengan lokasi tersebut. Satu tahapan sudah terlewati yaitu membeli tanah dan alhamdulillah dengan cash keras. Selanjutnya adalah membangun sedikit demi sedikit di atas tanah tersebut. Kalau kata orang, sing penting yakin.

Tentang Kukusan Teknik (Kutek) dan Kukusan Kelurahan (Kukel)

Hai hai, sekarang ini untuk sementara waktu aku tinggal di Kota Depok, tepatnya di Kukusan Teknik. Di tahun 2018 lalu, aku berkesempatan untuk melanjutkan studi di sini. Untuk mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Teknik dan FEB UI memang lebih cocok untuk memilih kos atau kontrakan di daerah kukusan teknik ini. Kenapa sih dinamakan Kukusan? Apa ada hubungannya dengan alat mengukus nasi? hihi, ga ada hubungannya kok. Kukusan itu adalah nama kelurahan disini, ya Kelurahan Kukusan dan di dekatnya pintu Fakultas Teknik, jadilah namanya Fakultas Teknik. Nah Fakultas Teknik itu tepat bersebelahan dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Untuk berangkat ke kampus, biasanya aku jalan kaki lewat Fakultas Teknik.

Buat kalian yang ingin mencari kos-kosan di daerah kukusan teknik, tersedia sangat beragam pilihannya. Sebagai tukang survei, secara refleks aku suka bertanya mengenai harga kos-kosan, dan sebagian besar harga kos-kosan di Kukusan Teknik di tahun 2019 sebesar 800 ribuan ke atas. Untuk kamar yang menggunakan Air Conditioner (AC), tentu lebih mahal. Masalah makanan juga banyak tersedia berbagai warung nasi yang harganya cukup ramah di kantong mahasiswa. 

Akses buat ke kampus cukup dengan berjalan kaki. Bisa juga kalau mau naik ojol, tapi ga disarankan karena itu ga sehat buat kondisi keuangan :p. Di lingkungan kampus, disediakan bus kuning untuk angkutan mahasiswa dari satu fakultas ke fakultas lainnya dan ini free. Salah satu yang akan terkenang dari bis kuning adalah ketika turun hampir semua mengucapkan "makasih paaak..". Di tahun 2019, bus Trans Jakarta (TJ) juga mulai meramaikan transportasi di UI, akan tetapi konon ini berbayar. Aku belum pernah coba naik TJ dari dalam kampus. Inget TJ mendadak jadi inget masa magang di Pasar Baru tahun 2012 silam, masa yang agak suram karena moratorium. 

Wilayah lain yang menyediakan kos-kosan adalah daerah Kukusan Kelurahan (Kukel). Daerah kukel lebih dekat ke halte bus Program Vokasi. Daerah ini relatif dekat dengan kantor Kelurahan Kukusan tepatnya di dekat pintu masuk kendaraan roda dua. Di daerah kukel juga sama lengkapnya dengan kutek, aku biasanya kesana kalau mau perbaiki laptop. 

Buat adik-adik yang berencana masuk UI, semoga dimudahkan ya :D

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...