Jadi Commuter (lagi)

Assalamu'alaikum, 

Sekarang sudah ada di Unaaha lagi setelah tadi pagi berangkat dari rumah kakak tingkat di Kota Kendari. Kemarin sore itu, mau pulang setelah dari kantor propinsi ternyata hujan besar. Jadi kakak tingkat bilang besok pagi aja ke Unaaha. Jadilah aku menginap di rumah kakak tingkat di rumah barunya sekitar Anduonohu. 

Berangkat jam 05.45 WITA, jalannya juga pelan-pelan aja, maksimal 80 km/jam. Pas lewat di depan kosan pas jam 7.20 dan ternyata banyak polisi yang sedang ber-sweeping dan aku diminta 'minggir'Sampai kantor masih santai-santai soalnya aku kira masih bisa santai. Dan taraaa ternyata aku absen jam 7.29 WITA. Nyaris yaa, haha tuh kan hidup aku dikendalikan sama mesin absen. 

Pas di Kendari kemarin, entah kenapa tiba-tiba aku berdo'a dalam hati seperti ini, "Ya Allah, seandainya aku memang belum siap untuk berumah tangga, tolong jangan hadirkan seseorang dalam hidupku. Jika memang telah siap nanti, pertemukanlah aku dengan dia yang sudah Engkau gariskan sebagai teman hidupku". Kupejamkan mata kemudian mengamini do'a tersebut dengan tulus dan penuh pengharapan kepada-Nya. 

Oia, kemarin sempet ke gramedia Kendari buat cari buku. Setelah duduk berjam-jam baca buku, akhirnya ga enak juga kan kalau nggak beli. Nah, jatuhlah pilihanku ke novelnya Tere Liye, Sunset Bersama Rosie. Baru baca sepenggalan aja nih, belum sempet, hehe syok sibuk. Yaa, buku adalah teman yang tidak pernah membosankan. Buku adalah pengingat yang baik di kala kita lupa. Dan tahukah, bacaan terbaik buat manusia itu adalah Al Qur'an. Hmm, tapi kenapa ya kalau mau mulai baca tuh beratnyaa minta ampun. 

Udah hampir jam setengah empat sore. Saatnya siap-siap pulang ke kosan. 

From Unaaha with Love :) 

Working Mom

Baru mau keluar kantor propinsi, eh hujan. 

Lebih baik mengisi waktu dengan ngeblog. Kali ini saya tertarik untuk membicarakan tentang wanita yang bekerja. Sebagaimana kita ketahui, mencari nafkah itu bukan kewajiban bagi wanita. Namun di jaman sekarang ini, sangat lazim ditemukan wanita yang bekerja mencari nafkah terutama di kota besar. Bukan hanya di kota besar, kota kecil seperti Kendari pun banyak. 

Teringat sama teman kantor yang keduanya sama-sama bekerja di instansi dimana aku bekerja saat ini. Anak mereka sudah dua, yang pertama berumur 6 tahun dan yang kedua berusia 1 tahun. Setiap pagi rutinitas mereka, suaminya mengantar si sulung ke sekolah pukul setengah tujuh pagi, padahal masuk sekolah jam setengah 8 pagi. Suaminya itu harua segera ke kantor untuk absen pagi dengan meninggalkan si sulung sembari menunggu teman-temannya datang. Setiap pagi, temanku harus mengantarkan si bungsu ke rumah penjaganya. 

Ada seorang anak yang bertanya pada ibunya, mama mau nggak nitipin tas mahal mama ke orang lain? Mamanya jawab "Ya, enggak dong, nanti hilang atau rusak. "Terus kenapa mama titipkan aku sama bibi? Berarti aku ga.lebih berharga ya dari tas mama". Hmm, mungkin itu bukan percakapan sungguhan antara mama dengan anaknya, akan tetapi banyak yang seperti itu kejadiannya. Apalagi di kota besar, pergi pagi buta selepas subuh dan kembali lagi ke rumah menjelang isya. 

Saya rasa ga ada wanita yang ga kepengen merawat anaknya dengan tangan mereka sendiri, membentuk kepribadian mereka secara langsung. Tapi apa daya ketika keadaan yang memaksa seorang ibu untuk meninggalkan buah hatinya bersama orang lain. Apalagi seorang ibu yang terpaksa tidak dapat memberikan ASI kepada buah hatinya. Moment ini biasanya dimanfaatkan oleh produsen susu formula untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Astagfirullah. 

Kebersamaan dengan buah hati tentu saja ga bisa ditukar dengan rupiah. Masa tumbuh kembang anak hanya satu kali seumur hidupnya. Tidak bisa terulang lagi. Dan karakter anak sangat tergantung kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Sedih jika orang pertama yang menyaksikan perkembangan anak dari ke hari bukanlah kita, orang tuanya. Sedih kalau yang tahu  pertama kali anak bisa bicara itu bukan kita. Sedih rasanya jika anak kita menangis saat ditinggal sama pengasuhnya. Apalagi kalau saat ditinggal sama kita reaksinya biasa-biasa aja. 

Kelak, saya ingin semua anak saya bisa mendapatkan ASI dengan cukup. ASI itu hak setiap anak meskipun dalam beberapa kasus memang ada yang tidak bisa memberi ASI bukan dengan sengaja. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita. 

Posting Pertama dari Ponsel

Weekend ke sekian kalinya di Unaaha. Seperti biasa, sebagian besar warga Unaaha beralih menjadi warga Kota Kendari pada akhir minggu. Jadilah Unaaha ini sebagai legenda kota yang sunyi di akhir pekan, awal pekan pun juga sih. Heehe. 

Seperti biasa juga, kegiatanku di akhir pekan yaitu mencuci baju, menyetrika pakaian, beres-beres kosan. Alhamdulillah. Sayangnya kemarin itu aku nggak bisa ikut belajar bahasa arab karena pas Jum'at sore, kepala tata usaha minta aku untuk ambil log absen. Sebenernya enggak lama, tapi karena ada kesalahan teknis jadi harus diulang dua kali. 

Malam Minggu, seperti malam Minggu sebelumnya, ada halaqoh di rumah kakak tingkat angkatan 45. Vera nggak datang katena cuacanya emang agak gerimis gitu. Bikin betah di rumah, hihi. 

Oia, pagi tadi.aku streaming kajian AQL yang berpusat di daerah Tebet, Jakarta. Kajiannya lumayan menarik. Eh tapi, kuota internetku, hiks.. karena streamingnya hampir satu jam. Ga apa apa, untuk ilmu yang bermanfaat. Daripada harus datang ke Jakarta sana. 

Sore tadi, aku keliling sambil cari kosan yang lebih deket ke kantor. Ada sih, adaa. Memang dekat sekali dengan kantor tapi tahu nggak, kosannya itu dindingnya kayu dan lantainya semen gitu. Aku nggak tertarik. 

Aku emang nggak pandai merangkai kata kata dalam menulis. Jadi maaf ya cuma sekedar report kegiatan sehari hari dan mungkin kadang kadang setengah curhat. Hehe. Kalau nggak suka ya nggak usah dibaca :p 

Oiya sesuai dengan judul post ini, aku menulisnya melalui gadget kecil. Jadi kalau ada typo, kesalahan penulisan, mohon maaf yaah. Mohon maaf lahir dan batin, hehe. 

From Unaaha with Love... 

Kontroversi Pemindahan Pegawai

Saat ini sedang 'panas-panasnya' dibahas tentang peraturan internal di instansi saya, kantor perwakilan provinsi. Peraturan yang cukup kontroversial. Sebagaimana biasanya, lain pimpinan lain juga kebijakan yang diterapkan. Ketika awal saya masuk dulu, seolah-olah ada peraturan tidak tertulis bahwa untuk daerah terluar di wilayah sulawesi tenggara ini, tidak akan lama, maksimal 2 tahun saja. Akan tetapi, pimpinan yang saat itu menyambut angkatan saya dipindah ke kampung halamannya di Nusa Tenggara Barat. Tak lama kemudian, datanglah pimpinan baru dengan segala gaya dan sikap kepemimpinannya yang tentu saja berbeda. 

Peraturan apa sih yang dimaksud? Jadi begini, pegawai-pegawai yang baru penempatan disepakati harus menempati daerah terluar, dalam hal ini daerah dengan zonasi C, meliputi Kolaka Utara, Konawe Utara, Wakatobi, Bombana dan Buton Utara. Ada yang ketinggalan disebut? Begitu pula dengan penempatan pegawai yang pertama kali menjabat sebagai struktural, harus dari zona C. 

Menurut praduga saya, kenapa pimpinan sampai membuat peraturan sedemikian rupa adalah karena selama ini daerah-daerah zona C jarang diminati oleh para pegawai. Ada kecenderungan, "ga apa-apa deh saya tetep jadi staf asal tetep di kota". Daerah dengan tipe C pada umumnya kosong struktural. 

Ada beberapa kasus yang cukup menguras emosi mengenai pemindahan pegawai belakangan ini. Ada pegawai yang sudah merasa nyaman di zona C, namun harus pindahan lagi karena sudah dibuatkan surat keputusan. Untuk diketahui, zona C itu tidak seburuk yang dibayangkan, saya pernah merasakan bertugas di zona C selama 2 tahun. Sarana dan prasarana juga sudah cukup lengkap menurut saya yang saat ini belum memiliki anak sehingga belum memikirkan sekolah seperti apa yang saya mau untuk anak saya. 

Ada juga kasus pegawai yang tidak mau diangkat menjadi struktural, namun lagi-lagi harus pindahan berbekal surat keputusan yang terlanjur dicetak. Memang benar, menjadi abdi negara itu sebenarnya kita adalah asetnya negara, semacam barang? Hmm entahlah.. yang jelas pegawai itu punya perasaan dan keinginan tersendiri, bukan seperti benda mati. 

Oh iya, lalu kenapa terjadi kekisruhan di media sosial? Jadi, karena daerah-daerah di tipe C baru saja mendapat alokasi pegawai baru dua bulan lalu, pimpinan merevisi kebijakan yang ada. Zonasi hanya berlaku untuk pegawai struktural sehingga ada pegawai baru yang akan datang langsung ditempatkan di kota sementara pegawai lama banyak yang ingin kesana. Disini kita juga bisa melihat dari dua sisi. Pertama, mungkin memang rezekinya pegawai baru tersebut, katanya rezeki tak akan tertukar bukan? Kedua, sebagai pegawai yang pernah merasakan penempatan di zona C, rasanya memang tidak adil kalau pegawai tersebut tidak merasakan yang kami rasakan. Agak egois yah, he. 

Saya yakin, pimpinan tidak memiliki maksud tidak baik kepada anak buahnya. Jadi segala peraturan dibuat demi kebaikan instansi ini. Akan tetapi, terkadang, peraturan yang dibuat tidak applicable. Niat baik saja tidak cukup, perlu juga cara yang baik. Coba bayangkan ketika seluruh daerah zona C terisi strukturalnya. Kemudian tahun depannya ada pegawai-pegawai yang berpotensi untuk menjadi struktural harus juga diangkat di zona C. Pegawai yang di zona C harus dipindah dulu kan ke zona B? padahal baru satu tahun di sana, dan itu akan berlangsung beberapa tahun. Bosan gak sih buatin surat keputusan setiap tahun? :D 

Solusi : Menurut pendapat saya yang hanya pegawai yang termasuk baru juga, kita ini tidak bisa diperlakukan seperti barang-barang tidak bernyawa. Kami punya perasaan dan keinginan, tolong dengarkan keinginan kami. Minimal, sebelum membuatkan surat keputusan, berikan kami kesempatan untuk memilih. 

Welcome to Unaaha

Ga terasa udah sekitar dua minggu, bahkan lebih, aku di Unaaha. Sebuah kota kecil di daratan Sulawesi Tenggara yang katanya paling dekat dengan ibukota propinsi di Kendari. Sedekat-dekatnya jarak sebuah kota terhadap kota lain di luar pulau Jawa, masih terasa jauh menurutku. Dengan jarak sekitar 70 kilometer, perjalanan dari Unaaha ke Kota Kendari dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. 

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Kota Unaaha, yang terbersit dalam pikiranku "kok sepi ya?". Ya Kota Unaaha meskpiun sudah berusia lebih dari 50 tahun, masih begini-begini aja kalau kata orang yang sudah tau bagaimana Unaaha sejak jaman dulu. Maksudnya, tidak ada kemajuan yang berarti dari hari ke hari. Namun, bagi penduduk asli Unaaha, kota ini pasti akan mereka rindukan dimana pun mereka berada, yah namanya juga kampung halaman. 

Kompleks perkantoran di Unaaha ini terpusat menjadi satu dan bentuknya lingkaran menyerupai sarang laba-laba. Hari-hari pertama setiap pulang kantor pasti kesasar dulu, setelah bertanya sama penduduk sekitar barulah tau jalan ke rumah kos. 

Oh iya, aku juga mau bercerita mengenai rumah kos baru. Aku tinggal di daerah Kelurahan Tuoy yang bersebelahan dengan Kota Unaaha, juga bersebelahan dengan Kecamatan Wawotobi. Jarak antara kosan dengan kantor sekitar 7 kilometer. Rumah kos yang aku tempati itu adalah milik salah satu kepala bidang di provinsi, sekarang beliau sudah pindah tugas ke Pangkep. Di rumah kos itu ada penjaganya, sepasang suami istri dengan tiga orang anaknya, Dilla, Sofi dan Nabil. Jarak usia mereka bertiga tidak terlalu jauh, rata-rata 2 tahun. Setiap hari ada saja hal yang dipertengkarkan ala anak kecil. Seringkali diakhiri oleh tangisan salah satu diantara mereka. Aku sendiri ga pernah merasakan bagaimana bertengkar kecil dengan kakak atau adik kandung, kasian ya. 

Sepasang suami istri penjaga kos yang baik itu, setiap hari membantu aku mengamankan motor dinas karena memang tidak disediakan tempat khusus untuk menyimpan motor. Kalau setiap hari kok aku jadi merasa ga enak ya *inilah ciri khas orang Jawa, ga enakan*. Kata mereka sih ga apa-apa mba. 

Secara keseluruhan, aku masih belum bisa sepenuhnya menikmati kehidupan di Unaaha. Masih dalam tahap penyesuaian seperti pertama-tama di Lasusua dulu. Dan tahukah, lama waktu yang saya butuhkan untuk merasa nyaman terhadap suatu tempat atau keadaan. Lama ya -_-. 

Gonna Miss You, Lasusua

Kekita di Lasusua udah ga kesulitan air dan kesulitan listrik lagi, tiba-tiba gue udah disuruh pindah ke kabupaten di deketnya ibukota provinsi. Alhamdulillah yaa akhirnya pindah. Meskipun seperti yang pernah gue bilang di tulisan yang sebelumnya, Lasusua itu udah menjadi salah satu tempat yang enggak bakal bisa gue lupain sepanjang hidup gue. Di sini gue ditempa, dari yang ga ngerti apa-apa, sampai akhirnya sedikit bisa apa-apa. Lasusua juga udah mempertemukan gue dengan orang-orang yang luar biasa. Memberikan gue pelajaran yang mungkin ga akan gue dapatkan di tempat lain. The best-lah.

Satu hal yang bikin gue berat meninggalkan tempat ini adalah indahnya matahari terbenam di kota kecil ini. Mungkin orang menganggapnya biasa, tapi buat gue, pemandangan matahari terbenam tiap sore adalah pertunjukan alam yang sangat menakjubkan. Kalau sedang beruntung, matahari bisa terlihat jelas. Kadang-kadang, ia bersembunyi malu-malu di balik awan. Bahkan tak jarang, ia tak mau memperlihatkan diri sama sekali.

Belum ada bayangan nanti di kota yang baru akan seperti apa dan bagaimana. Yang jelas, life must go on. Kadang muncul rasa takut nanti bagaimana ya di sana, bla blaa.. Yang jelas, lebih dekat dari Kota Kendari. Hmm, tapi di Kendari juga ga ada keluarga, sama aja yah. Hanya ada beberapa teman yang sama-sama berasal dari Jawa. Bersyukur ajaa sayangg...

 From Kolaka Utara with love :*

Libur Lebaran Pun Usai

First, say thanksss to Allah, always... Yang selalu mencukupkan segala kebutuhanku, di siang dan malam hari. Ga lupa bilang ni kalau saya masih di Lasusua, hehe, someday aku pindah ke Jawa. Baru saja kemarin aku pulang ke Tangerang dalam rangka lebaran Idul Fitri 1435 H. Topiknya om bude  dan tante ya seputar jodoh,tetangga juga sama. Hehe aku anggap do'a aja semuanya, supaya lekas dipertemukan dengan laki-laki shaleh, baik hati dan bertanggung jawab.Semoga Idul Fitri 1436 H udah ada calon tetap, atau malah udah sah :D

Sepuluh hari di Jawa, rasanya sebentaar banget. Ibu juga bilang begitu. Pas harus ke Lasusua lagi, dalam hatiku selalu aja bertanya-tanya "kenapa harus ke Lasusua lagi?". Sedih harus ninggalin mereka berdua di rumah, ya meskipun ketika di rumah adaa aja yang diperselisihkan. Aku hanya bisa ngademin diri sendiri dengan bilang "ini hanya sementara saja vi.. not last forever". Terutama saat pesawat Sriwijaya SJ588 tinggal landas dari Bandara Soetta, dini hari itu. Kerlap-kerlip lampu Ibukota Jakarta perlahan menghilang dari pandangan. Kota Jakarta yang di sana terdapat banyak kenangan yang kutinggalkan. Perlahan air mataku menetes, ibu-ibu di sampingku sepertinya menyadarinya. Snack dan air mineral yang disediakan oleh pramugari tidak kulirik sedikitpun, aku masih tetap menatap kota Jakarta yang perlahan menghilang. Ah cengengnya aku ini,, cengeng banget. Mungkin orang akan menilai demikian. Satu hal, aku berdo'a supaya aku bisa lekas bertugas di dekat rumah orang tuaku. Aku ingin merawat mereka di masa tuanya. 

Sesampainya di Lasusua setelah perjalanan darat, laut dan udara, setelah 18 jam di perjalanan dengan rute Jakarta-Makassar-Siwa-Tobaku-Lasusua. Jauh bukan? Hehe. Ragaku udah ada di sini, tapi pikiranku masih melayang-layang di Jakarta. Hmm, drama banget sih nop. Ini serius. Kalian boleh coba sendiri bagaimana harus merantau jauh dari orang tua. Setelah satu minggu baru aku menyadari kalau aku sudah di Lasusua, hah bagaimana bisa. Pokonya tetep semangat aja, ayo terus memperbaiki diri. Galau itu pertanda kamu sedang jauh dari Allah, jadi ketika galau tiba, segera perbaiki jarak antara kamu dengan Tuhanmu. :D 

From Lasusua with Love :*

Impaksi Gigi Bungsu Part 1

Semenjak melahirkan Dafa sekitar 3 tahun yang lalu, ada nyeri di gigi geraham paling bungsu. Aku sedikit menyesal waktu hamil kurang konsum...